BUDAYA POSITIF
Sebagai
sorang guru tentu dalam melakukan pembelajaran akan menemukan berbagai kendala.
Salah satunya adalah murid yang melanggar aturan sekolah. Tentu sebagai seorang
guru yang perannya menuntun kita tidak boleh memberikan hukuman terhadap murid
yang meanggaran aturan-aturan sekolah. Lalu apa yang harus kita lakukan? Pada
modul 1.4 dibahas tentang budaya positif sekolah yeng berpihak pada murid untuk
menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila.
1. Disiplin positif dan nilai-nilai
kebijakan universial
Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’
dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk
mendapatkan kepatuhan. Kita cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan
ketidaknyamanan. Padahal disiplin itu sendiri menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. menyatakan
bahwa arti dari kata disiplin berasal dari Bahasa Latin, ‘disciplina’, yang
artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan
‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang
harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu,
sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah
menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa
berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki
motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
Sedangkan nilai-nilai kebajikan universal adalah nilai-nilai yang disepakati bersama yang terlepas dari suku bangsa, agaman, Bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu. Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan. Nilai-nilai kebajikan universal salah satunya adalah profil pelajar Pancasila yaitu, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan Global, bergotong royong dan Kreatif.
2.
Teori motivasi, hukuman dan pengahrgaan,
restitusi
a.
Teori
Motivasi
Diane
Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi
yaitu;
1) Untuk
menghidari hukuman.
2) Untuk
mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
3) Untuk
menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai
yang mereka percaya.
b.
Hukuman,
konsekuensi dan restitusi.
Tindakan terhadap
suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Kita sepakat
bahwa hukuman harus hilang pada dunia pendidikan di abad 21 ini. Karena hukuman
tidak mendidik, namun hanya menyakiti perasaan murid dan tentunya berdampak negative
baik jangka pendek maupun jangka panjang. hukuman
bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang
akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru
yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu
kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya.
Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti
oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
Konsekuensi
adalah sebuah pertanggung jawaban murid sesuai dengan keyakinan kelas yang
telah disepakati terlebih dahulu. Jadi, konsekuensi ini sifatnya tidak spontan,
sehingga murid tahu apa yang harus mereka lakukan Karen atelah melanggar kesepakatan
kelas. Murid tetap akan merasa tidak nyaman, namun dalam jangka waktu yang
pendek.
Apabila
hukuman akan membuat murid merasa tidak nyaman atau berdampak negative dalam jangka
waktu yang panjang, lalu konsekuensi membuat murid merasa tidak nyaman dalam
waktu yang pendek. Nah, restitusi adalah sebuah pendekatan yang menguatkan
murid dalam jangka waktu yang panjang. Mengapa demikian? Karena restitusi adalah
proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahanmereka,
sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih
kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan
murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir
tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan
orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Dengan
restitusi, ketika murid melakukan kesalahan maka guru akan mengajak murid
merefkleksi tentang apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya
sehingga mereka akan menjadi priadi yang lebih baik dan menghargai dirinya.
3. Keyakinan kelas
Keyakinan kelas bersifat abstrak dengan
mempertimbangkan kebajikan universal dan dibuat dalam kalimat positif. Berikut
contoh keyakinan kelas
4. Kebutuhan dasar manusia dan dunia
berkualitas
Ketika seorang murid melakukan suatu
perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar
peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar
mereka. Kebutuhan dasar manusia ada 5 yaitu survival, love and belonging,
freedom, fun, and power.
Kebutuahan dasar manusia ini ada
hubungannya dengan restitusi. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan
tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan
apa yang kita inginkan. Begitupun dengan tindakan murid, mereka melakukan
sesuatu yang melanggar bisa disebabkan karena ingin memenuhi kebutuhan
dasarnya. Sehingga dalam restitusi harus menganalisis kebutuhan dasar apa yang
hendak meraka dapatkan dalam perilakunya.
5.
Restitusi - Lima posisi control
Berdasarkan pada teori Kontrol Dr.
William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan
seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi
kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan
Manajer
6.
Restitusi – Segitiga restitusi
Restitusi memiliki tiga tahapan yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan dan menanyakan keyaikan.
Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sisi segitiga restitusi. Langkahlangkah tersebut tidak harus dilakukan satu persatu secara kaku. Banyak guru yang sudah menggunakannya dalam berbagai versi menurut gaya mereka masing-masingbahkan tanpa mengetahui tentang teori restitusi.
Peran guru adalah menuntun, bukan menghukum. Restitusi adalah salah satu yang harus dilakukan oleh guru dalam konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Selama ini dalam mendisipkan murid, saya cenderung menjadi sorang pemantau. Pada posisi ini saya hanya mengingatkan murid tentang konsekuensi terhadap apa yang mereka lakukan, dan merakanpun sudah mengetahuinya. Namun, ternyata konsekuensi ini tidak dapat memecahkan permasalah muri. Murid hanya melakukan pertanggung jawaban sesuai dengan pelanggarannya. Setelah mempelajari modul ini saya yakin bahwa restitusi dapat membuat budaya positif di sekolah.
Pengalaman saya dalam menjalankan budaya positif di kelas salah satunya melakukan restitusi kepada murid yang bermasalah. Ketika murid sedang bermain ada murid yang berselisih sehingga melakukan hal yang tidak baik. Setalah dianalisi ternyata anak tersebut sedang berusaha untuk mendapatkan kebutuhan dasar akan kekuasaan. Sehingga saya menjalankan langkah-langkah restitusi untuk mencari solusinya. Saya memanggil ke kantor kedua anak yang berselisih tersebut. Tentu langkah petama yang dilakuakan adalah menstabilkan identitas, validasi tindakan dan menanyakan keyakinan. Saat melakukannya memang saya kesulitan untuk membuat anak terbuka dan jujur tentang apa yang mereka lakukan. Tetapi dengan meyakinkan murid tersebut bahwa saya tidak mencari siapa yang salah dan hanya akan membantu murid tersebut mencari solusi untuk memperbaiki kesalahannya maka akhirnya anak tersebut bisa jujur. Menurut saya dalam restitusi ini kita perlu untuk meyakinkan murid bahwa kita akan membantunya mencari solusi bukan untuk memberi murid hukuman. Sehingga anak akan lepas dalam berdialog dengan guru. Hal tersebut yang harus saya asah untuk meningkatkan keterampilan saya dalam melakukan pendekatan restitusi ini.
Sebelum mengenal restitusi dengan tiga tahapannya. Terkadang secara tidak sadar saya melakukan salah satu langkah segi tiga restitusi. Biasanya ketika ada murid melakukan kesalahan saya akan menanykan kesepakatan kelas kita apa yang tidak dilakukan oleh murid tersebut dan meminta murid tersebut untuk kemabali lagi ke kesepakatan kelas tersebut. Langkah tersebut sesuai dengan segi tiga restitusi yaitu, menanyakan keyakinan (seek the belief).
0 Komentar