maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat). Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Pendidikan menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain (merdeka batin) dan menjadi mandiri (merdeka lahir). Kekuatan diri (kodrat) yang dimiliki, menuntun murid menjadi cakap mengatur hidupnya dengan tanpa terperintah oleh orang lain.
Dasar-Darar Pendidikan Yang Menuntun
 |
| Dokumen Pribadi |
KHD (Simon Petrus Rafael, 2022:10) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat". Inilah tujuan pendidikan menurut KHD. Lalu, bagaimana supaya siswa memiliki kebagahagian baik saat belajar maupun masa depannya. Jawabnnya ada pada peran guru. KHD mengibaratkan peran guru sama dengan peran petani atau tukang kebun. Dimana anak-anak bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.
Seperti yang sudah disampaiakan di atas, tujuan pendidikan adalah menuntun. Sehingga pendidikan itu hanya tuntunan terhadap tumbuh kembangnya anak. Kita sadar bahwa anak memiliki potensi dan karakter masing-masing dalam kelas, sehingga tugas guru bagaimana kita membimbing dan memfasilitasi anak tersebut supaya efektif dalam belajar.
Walaupun pendidikan itu pada dasarnya hanya menuntun, tetapi perlu juga berhubungan dengan kodrat keadaan dan zaman. Seorang anak yang sudah baik perilakunya masih memerlukan tuntunan. Bukan tidak mungkin anak yang baik tersebut akan berperilaku buruk karena pengaruh-pengaruh lingkungan. Pada dasarnya anak dilahirkan dalam keadaan suci, namun pengaruh lingkungan seperti keluarga, lingkungan rumah dan juga sosial media akan membedakan karakter-karakter anak. Tentu anak yang dilahirkan dengan dengan lingkungan keluarga yang baik akan berbeda dengan yang broken home. "Menurut teori pendidikan, hubungan anatara dasar dan keadaan itu terdapat adanya 'konvergensi'. Artinya keduanya saling mempengaruhi hingga garis dasar garis keadaan itu selalu tarik-menarik dan akhirnya menjadi satu".
Dalam proses menuntun, siswa diberikan kebebasan dalam belajar sesuai dengan minat dan bakat juga kecakapan mereka masing-masing. Namun pendidik sebagai pamong harus menuntun anak agar tidak kehilangan arah dan justru membahayakan dirinya. Apablagi di era globalisasi ini, anak-anak digempur dengan berbagai budaya luar yang masuk melalui jejaring sosial yang diminati anak-anak seperti facebook, IG, tiktok dan lain sebagainya. Untuk itu, guru harus dapat menuntun siswa supaya siswa dapat memfilter budaya asing yang tidak sesuai dengan profil pelajar pancasila.
Kodrat Alam dan Kodrat Zaman
Pendidikan sejati harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Bila melihat zaman, pendidikan sekarang menekankan kepada keterampilan abad 21 yang menuntut siswa memiliki keterampilan berpikir kreatif
(creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah
(critical thinking and problem solving), berkomunikasi
(communication), dan berkolaborasi
(collaboration) atau yang biasa disebut dengan 4C. Sedangkan kodrat alam berarti memperhatiakan sosial budaya dan juga topography alam tempat siswa berada. Oleh karen itu, hendaknya pendidikan atau pengajaran memperhatikan kondisi lingkungan dan sosial budaya setempat. Tentu, anak-anak pantai dan yang tinggal di daratan tinggi harus diperlakukan berbeda sesuai dengan lingkungan mereka. Begitupun, anak-anak diperkotan dan kampung tentu akan berbeda cara menuntunnya. Walaupun berbeda tetapi tetap tujuannya agar siswa memiliki kebahagiaan dan keselamatan yang setingi-tingginya dalam kehidupannya.
Budi Pekerti
Budi pekerti, Watak atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi berarti pikiran- perasaan- kemauan, sedangkan pekerti artinya tenaga.
Menurut konvergensi teori, watak manusia dibagi menjadi dua. pertama kecerdasan pikiran (intelek) dan 'biologis'. kecerdasan pikiran dapat berubah dengan pengaruh pendidikan atau keadaan. sedangkan biologis dikatakan tidak dapat berubah selama hidup. Bagian yang disebut biologis yang tak dapat berubah ialah bagian-bagian jiwa mengenai perasaan yang berjenis-jenis di dalam jiwa manusia. misalnya rasa takut, rasa malu, rasa kecewa, rasa iri, rasa egoisme, rasa sosial, rasa berani dan sebagainya. rasa-rasa tersebut akan tetap ada didalam jiwa manusia, mulai dari anak kecil hingga tumbuh menjadi dewasa.
Kecerdasan pikiran dapat menutup watak biologi tersebut. Contoh, Seorang penakut setelah mendapatkan didikan yang baik akan segera hilang rasa takutnya. sebenarnya rasa takut itu tetap ada hanya saja takutnya itu tidak nampak karena sudah mendapatkan kecerdasan pikiran sehingga anak tersebut dapat memperkuat kemauannya untuk tidak takut.
KHD menjelaskan bahwa "keluarga menjadi tempat yang utama dan tempat yang paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak" (Simon Petrus Rafael, 2022:13). Pentingnya pendidikan dalam keluarga bahkan tertuang dalam permen No. 30 tahun 2017 tentang pelibatan keluarga dalam penyelenggaran pendidikan. Ini mengindikasikan bahwa peran keluarga sangat penting untuk melatih kecerdasan sosial dan juga karakter anak. Salah satua perlibatan kelurga adalah untuk mendorong penguatan pendidikan karakter anak.
Dalam pendidikan tentunya tidak bisa ditekankan kepada sekolah saja sebagai lembaga pendidikan. namun juga harus melibatkan berbagai pihak seperti orang tua, lingklungan dan juga peraturan. Sehingga anak-anak akan dapat dibimbing dengan seutuhnya. Tidak hanya di sekolah tetapi di rumah dan juga dilingkungan. Ada masalah yang cukup membuat saya termenung, bagaimana lunturnya pendidikan di keluarga dan juga tuntunan di masyarakat membuat anak-anak generasi bangsa ini justru kehilangan jati dirinya. Sehingga tepat untuk mengembalikan jati diri anak-anaka bangsa ini dengan profil pelajar pancasila.
Umpan Balik.
Ibu/bapak guru, dimanapun anda berada. Mohon kiranya untuk memberikan umpan balik tentang tulisan saya mengenai Merdeka Belajar di atas. Anda dapat memberikan umpan balik pada link
umpan balik di bawah.
Terima kasih.
0 Komentar