Koneksi Antar Materi Modul 1.3

 

KONEKSI ANTAR MATERI
MUDUL 1.3
VISI GURU PENGGERAK
 
Indra Sukma Perdana
CGP Angkatan 7 Kabupaten Sukabumi


Apa yang Bapak/Ibu pahami mengenai kaitan peran pendidik dalam mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Profil Pelajar Pancasila pada murid-muridnya dengan paradigma inkuiri apresiatif (IA) di sekolah Bapak/Ibu?

Menurut Ki Hajar Dewantara (Simon Petrus Rafael, 2022:10) tujuan pendidikan yaitu "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat". Untuk menciptkan hal tersebut maka pendidikan merupakan salah satu kuncinya. Karena pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.

Seperti yang sudah disampaiakan di atas, tujuan pendidikan adalah menuntun. Sehingga pendidikan itu hanya tuntunan terhadap tumbuh kembangnya anak. Kita sadar bahwa anak memiliki potensi dan karakter masing-masing dalam kelas, sehingga tugas guru bagaimana kita membimbing dan memfasilitasi anak tersebut supaya efektif dalam belajar.Tentunya dalam proses menuntun kodrat anak kita harus memperhatikan kodrat alam dan zaman.

Untuk mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara maka guru harus memiliki nilai-nilai dan juga peran guru penggerak seperti ditampilkan di bawah ini.

 


Nilai-nilai dan juga peran guru penggerak seperti ditampilkan pada gambar di atas akan membuat perubahan positif baik di dalam kelas maupun sekolah. Untuk memaksimalkan prubahan tesebut, maka guru penggerak harus meimiliki visi. Visi adalah gambaran masa drpan yang kita impikan atau cita-citakan. Visi haruslah menggerakan hati, penyemangat dan juga mendorong kolaborasi tiap anggota dalam organisasi.

Salah satu tujuan visi adalah untuk mencapai perubahan yang lebih baik dari kondisi saat ini. Menurut Evans ( Aditya Dharma, 2022 : 14) “untuk memastikan bahwa perubahan terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka para pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah”. Budaya sekolah yang dimaksud adalah sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah.

Untuk mewujudkan visi tentu kita harus melakukan sebuah prubahan ke arah yang lebih baik. Untuk melakukan perubahan tersebut kita memerlukan pendekatan Inkuri Apresiatif (IA). Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Pada umunya ketika akan melakukan perubahan dasarnya selalu permaslahan, lalu dicarikan solusinya. Berbeda dengan IA yang fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi. 

Setelah guru penggerak menentukan visi, maka tahapan selanjutnya adalah menentukan prakarsa perubahan. Untuk menentukan prakarsa perubahan kita bisa menggunakan ATAP (aset, tantangan, aksi dan pembelajaran) untuk membuat gambaran mental prakarsa perubahan. Kalimat prakarsa perubahan merupakan penggambaran upaya nyata yang memungkinkan gotong royong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis aset/kekuatan lewat sebuah kalimat yang berisi kata kerja utama dan dikuatkan dengan kata/frasa yang ada di dalam profil pelajar pancasila.

Langkah selanjutnya adalah menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan seusi dengan visi melalui tahapan BAGJA. Adapun BAGJA sendiri adalah gubahan tahapan IA sebagai manajemen perubahan. Bagja sendiri adalah akronim dari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana dan Atur Eksekusi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.


Kekuatan BAGJA ada pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan, dan kebersamaan. BAGJA mewujud menjadi pengalaman kolaboratif yang apresiatif dan bermakna bagi peningkatan kualitas belajar murid di sekolah. Pertanyaan itu akan membawa komunitas sekolah untuk berefleksi, menggali lebih dalam hal-hal yang bermakna, untuk kemudian diinternalisasi dan dijadikan sebagai bahan perbaikan-peningkatan dalam menjalankan perubahan demi perubahan.

Jadi untuk mewujudkan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara kita harus memiliki visi yang mencerminkan profil pelajar pancasila. Visi tersebut haruslah berlandaskan kepentingan peserta didik. Sedangkan nilai-nilai dan peran guru penggerak dibutuhkan guru dalam upaya perbaikan kualitas diri, sekolah dan juga kelas dalam upaya mencapai visi bersama.

Revisi dan rumuskan dengan penuh keyakinan, visi yang telah Bapak/Ibu buat berdasarkan jawaban pertanyaan diatas, ke dalam sebuah VISI yang membuat Bapak/Ibu bersemangat ketika membacanya, dan menggerakkan hati setiap orang yang membacanya.

Visi saya :

Terwujudnya peserta didik yang religius, berprestasi dan memiliki karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila

Revisi Visi :

Terwujudnya peserta didik yang religius, kreatif dan berprestasi.

 

0 Komentar